Mengapa Ya Tuhan?

Rabu, 25 Mei 2016

Tuhan...
Bolehkah aku bertanya?
Bolehkah aku berkata padaMu?

Tapi Tuhan
Kumohon...
Jangan anggap aku sedang mengeluh
Jangan anggap aku sedang memprotesmu
Jangan anggap aku benci padaMu

Karena aku sungguh mencintai Mu Tuhan...
Tolong, dengarkan aku
Jika kau mau jawablah...

Kenapa semua yang ku harapkan tak kau berikan?
Memang, dulu ku termakan ambisi
Memang, dulu hatiku keras
Memang, dulu ku egois

Kau bilang restu Mu restu orang tua
Tapi Tuhan
Aku menurut pada orang tuaku
Aku mencoba menepis ambisi
Aku mencari restu Mu ya Tuhan!

Tapi mengapa?
Mengapa Kau tetap tak mau memberi
Aku membawa restu Mu kan?
Atau Kau tak mengindahkan restu orang tuaku?

Sungguh, jika Kau sudi menjawab hamba
Jawab ya Tuhan
Apa yang Kau inginkan dariku?
Apa yang Kau rencanakan untuk Ku?
Rencana yang indah kan Tuhan?
Rencana yang membuat orang tua ku bahagia kan?

Jawab ya Tuhan...
Jawab....

Untukmu, Sang Dewi

Jumat, 13 Mei 2016

Teruntuk kau, Sang Dewi
Izinkan aku membelai indah parasmu
Paras nan cantik yang terlihat lemas

Izinkan aku melukis pelangi
Teruntuk cahaya matamu yang kian redup

Izinkan aku meraih jemarimu
Jemari lentik yang kian tak berdaya

Izinkan aku bersanding denganmu
Agar kau bisa meluapkan lelahmu dibahu ini

Jangan pudarkan senyum manismu
Jangan musnahkan binar matamu

Sungguh, Sang Dewi
Simpul bibirmu yang hilang
Semakin membuat diriku tak berdaya

Sang Dewi
Izinkan aku menjadi rumah untukmu
Agar jiwa ini tak redup
Agar jiwa kita hidup bersama

Sang Dewi
Ulurkan tanganmu
Aku akan menghapus lelahmu

Wahai kau

Wahai sang penyimpul hati
Apa salah ku?
Aku tahu, mungkin kau terlalu sempurna
Atau aku yang terlalu rendahan?
Tapi, setega itu kau sebut aku rendahan?
Kau memang tak pernah salahkan perasaan ini
Tapi, mengapa sikapmu seolah tak tahu apa itu cinta?
Aku tak pernah menuntutmu untuk membalas rasa ini

Aku, yang telah terlanjur tertambat di hatimu
Apakah perasaan ku ini salah?
Jika memang salah
Mengapa kau tak mencabut bayang wajah mu?
Mengapa kau tak segera beranjak dari hati ini?
Mengapa kau tak merobek namamu disini?

Aku, yang hanya ingin menyimpul senyum mu
Apa kau tahu?
Kau tak perlu bermanis-manis padaku
Terlalu indah bagiku
Cukup kau tersenyum dihadapanku
Meski senyum itu bukan untukku

Tapi, jika kau tak menginginkan cinta ini
Aku tetap memiliki cinta agung nan tulus
Untukmu, sang penyimpul hati