Entah Perasaan Apa

Kamis, 15 Mei 2014

            Ternyata sudah lima tahun aku meninggalkan kampus ini. Kampus tempatku menimba segala ilmu. Juga tempat bertemu banyak kawan. Hmm, itu kelasku. Kelas yang membawa banyak cerita. Detik-detik menimba ilmu, was-was hasil ujian, dan kenangan itu.
Baru kusadari, tepat disini, tempatku berdiri adalah suatu tempat dimana dulu aku suka mengamatinya. Iya, mengamatinya. Dia yang membuatku merasakan sesuatu hal yang aneh. Sesuatu yang berbeda dari biasanya. Entah itu perasaan apa. Yang kutahu, terselip rasa bahagia jika aku memandangnya tersenyum. Juga terselip rasa sedih dan kecewa jika memandangnya bersedih. Ah dia, dia yang tak pernah tahu jika aku  mengamatinya. Dia yang tak pernah tahu jika aku selalu ada disela-sela keramaiannya. Dia yang tak pernah menyadari keberadaanku. Tapi tak apa, sudah cukup bagiku memandangnya bahagia. Memandangnya tersenyum dalam hari-harinya dan memandangnya bercanda ria dengan kawannya. Sebenarnya, jarakku dengannya dekat, sangat dekat. Hanya saja, hati kita yang tak pernah dekat. Sekalipun tak pernah dekat. Hal inilah yang terkadang membuat hatiku sedikit tergores.  
Hmm, aku jadi ingat kejadian itu. Suatu kejadian yang selalu ku kenang, jika dia muncul dalam memoriku. Detik-detik ketika pertama dia berbicara padaku, sekaligus kali pertama ku berbincang dengannya. Singkat sebenarnya, bahkan sangat sepele, namun kesannya sangat mendalam.
“Hai,” sapanya.
“Mmm, hai juga,” balasku.
“Kita selalu sekelas namun tak pernah berbincang ya,” katanya sambil tersenyum. Senyum itulah yang membuatku selalu ingat. Senyum manisnya, senyum tulusnya, dan senyum yang tak terlupakan.
“Mmm, iya. Kita tak pernah berbincang,” saat itu, aku benar-benar tak tau apa yang harus kukatakan. Memandangnya dari jauh sudah membuatku tersenyum senang. Apalagi, didepannya persis.
“Eh, maaf udah dulu. Aku ada urusan,”
Sudah, hanya itu percakapanku dengannya. Ah, biarlah. Walaupun sebentar tetap ada kenangan. Saat itu aku benar-benar tak ada pemikiran untuk mendekatinya, mengenalnya lebih jauh, dan mengatakan perasaan yang sebenarnya aku tak tau perasaan apa ini.
            Setiap malam, aku hanya bisa berkirim salam lewat bulan. Bulan sabit, bulan purnama, dan bulan-bulan yang lain. Entah tersampaikan atau tidak, yang jelas selalu tak ada salam balasan darinya. Bulan juga tahu semuanya, karena dialah tempatku bercerita segala hal tentangnya. Terkadang sinarnya yang redup menandakan dia ikut bersedih atas hatiku ini. Ketika ku bercerita bahagia, sinarnya pun semakin terpancar. Bulan memang baik. Selalu menemaniku dalam mengenangnya.
            Ah, sudah lima tahun juga aku tak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Berada dimana dia sekarang? Seperti apa senyumnya sekarang? Ah, ternyata aku rindu dirinya. Rindu ketidaksadarannya ketika aku mengamatinya. Rindu langkah kakinya menuju kelas. Serta satu hal yang paling kurindukan, senyumannya.
            Sudah ah sudah, sudah cukup aku mengenangnya sekarang. Mengenangnya ditempat ini. Tapi, tiba-tiba…

            “Hai, kau teman sekelasku yang tak pernah berbincang denganku,” kata seseorang. Eh, ini kan, ini dia. Dia dengan keadaannya yang baik-baik saja. Dia berada disini, dan senyumannya…
            Hmm, penantianku untuk bertemu dengannya. Kini tlah terwujud. Ternyata, penantianku tak terbuang sia-sia. Terimakasih Tuhan ….

0 komentar:

Posting Komentar