Ternyata
sudah lima tahun aku meninggalkan kampus ini. Kampus tempatku menimba segala
ilmu. Juga tempat bertemu banyak kawan. Hmm, itu kelasku. Kelas yang membawa
banyak cerita. Detik-detik menimba ilmu, was-was hasil ujian, dan kenangan itu.
Baru kusadari,
tepat disini, tempatku berdiri adalah suatu tempat dimana dulu aku suka
mengamatinya. Iya, mengamatinya. Dia yang membuatku merasakan sesuatu hal yang
aneh. Sesuatu yang berbeda dari biasanya. Entah itu perasaan apa. Yang kutahu,
terselip rasa bahagia jika aku memandangnya tersenyum. Juga terselip rasa sedih
dan kecewa jika memandangnya bersedih. Ah dia, dia yang tak pernah tahu jika
aku mengamatinya. Dia yang tak pernah
tahu jika aku selalu ada disela-sela keramaiannya. Dia yang tak pernah
menyadari keberadaanku. Tapi tak apa, sudah cukup bagiku memandangnya bahagia.
Memandangnya tersenyum dalam hari-harinya dan memandangnya bercanda ria dengan
kawannya. Sebenarnya, jarakku dengannya dekat, sangat dekat. Hanya saja, hati kita
yang tak pernah dekat. Sekalipun tak pernah dekat. Hal inilah yang terkadang
membuat hatiku sedikit tergores.
Hmm, aku jadi ingat
kejadian itu. Suatu kejadian yang selalu ku kenang, jika dia muncul dalam
memoriku. Detik-detik ketika pertama dia berbicara padaku, sekaligus kali
pertama ku berbincang dengannya. Singkat sebenarnya, bahkan sangat sepele,
namun kesannya sangat mendalam.
“Hai,”
sapanya.
“Mmm, hai
juga,” balasku.
“Kita selalu
sekelas namun tak pernah berbincang ya,” katanya sambil tersenyum. Senyum
itulah yang membuatku selalu ingat. Senyum manisnya, senyum tulusnya, dan
senyum yang tak terlupakan.
“Mmm, iya.
Kita tak pernah berbincang,” saat itu, aku benar-benar tak tau apa yang harus
kukatakan. Memandangnya dari jauh sudah membuatku tersenyum senang. Apalagi,
didepannya persis.
“Eh, maaf udah
dulu. Aku ada urusan,”
Sudah, hanya itu percakapanku dengannya.
Ah, biarlah. Walaupun sebentar tetap ada kenangan. Saat itu aku benar-benar tak
ada pemikiran untuk mendekatinya, mengenalnya lebih jauh, dan mengatakan
perasaan yang sebenarnya aku tak tau perasaan apa ini.
Setiap
malam, aku hanya bisa berkirim salam lewat bulan. Bulan sabit, bulan purnama,
dan bulan-bulan yang lain. Entah tersampaikan atau tidak, yang jelas selalu tak
ada salam balasan darinya. Bulan juga tahu semuanya, karena dialah tempatku
bercerita segala hal tentangnya. Terkadang sinarnya yang redup menandakan dia
ikut bersedih atas hatiku ini. Ketika ku bercerita bahagia, sinarnya pun
semakin terpancar. Bulan memang baik. Selalu menemaniku dalam mengenangnya.
Ah,
sudah lima tahun juga aku tak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang?
Berada dimana dia sekarang? Seperti apa senyumnya sekarang? Ah, ternyata aku
rindu dirinya. Rindu ketidaksadarannya ketika aku mengamatinya. Rindu langkah
kakinya menuju kelas. Serta satu hal yang paling kurindukan, senyumannya.
Sudah
ah sudah, sudah cukup aku mengenangnya sekarang. Mengenangnya ditempat ini.
Tapi, tiba-tiba…
“Hai,
kau teman sekelasku yang tak pernah berbincang denganku,” kata seseorang. Eh,
ini kan, ini dia. Dia dengan keadaannya yang baik-baik saja. Dia berada disini,
dan senyumannya…
Hmm,
penantianku untuk bertemu dengannya. Kini tlah terwujud. Ternyata, penantianku
tak terbuang sia-sia. Terimakasih Tuhan ….
0 komentar:
Posting Komentar