Salahkah Perasaan ini?

Sabtu, 17 Mei 2014

            Kali ini, aku akan bercerita sesuatu tentang kesalahan menempatkan sesuatu. Sesuatu itu, tentang perasaan. Hmm, perasaan. Siapa sih yang tahu isi hati seseorang yang sebenarnya, entah sama yang diucapkan atau tidak. Tapi, kalau kita tau makna kepercayaan, seharusnya kita harus menyelaraskan kata dan hati. Terkadang memang susah. Namun, akibatnya akan lebih banyak jika kata dan hati tak sejalan. Oke, akan aku mulai sekarang.
            Pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang? | Pasti pernah. | Pernah menyayangi seseorang yang sudah punya kekasih? | Hmm, pernah juga. | Menurutmu, itu hal salah atau tidak? | Tidak salah, sah-sah saja kita menyayangi seseorang yang masih punya kekasih.
            Benar sekali, sah-sah saja memang. Tapi, coba fikirkan. Bagaimana caramu menyayanginya? Apakah sudah tepat? Ingat satu hal, dia sudah memiliki kekasih. Lalu, harus apa? Menghentikan rasa ini begitu saja? Semua orang paham, jikalau menghentikan rasa cinta, amatlah susah. Apalagi, orang itu sangat berkesan. J Jadi, tak mungkin melupakannya begitu saja. Kau boleh mencintainya. Kau boleh tau kabarnya. Bahkan, kau boleh terus menyayanginya tanpa henti. Tapi, kau tak boleh mengajaknya bertemu hanya berdua. Kau tak boleh mendahului kekasihnya. Ingat itu. Kau tahu kenapa? Iya, benar. Karena dia sudah ada yang memiliki. Kau juga pasti tahu rasanya, jika kekasih yang amat kau cintai malah bertemu dengan orang yang juga mencintai kekasihmu dan kau tak pernah tau pertemuan itu. Bagaimana rasanya? Sakit kan? Iya pasti sakit. Semua orang pun tahu.
            Namun, sadarkah kau? Bahwa perasaan itu sebenarnya sangat mengganggu hatimu? Sangat melukai hatimu. Meskipun kau bisa berkata, aku tak apa-apa, melihatnya tersenyumpun aku juga tersenyum. Tak seutuhnya kata-kata itu benar. Memang kau bisa bahagia melihatnya tersenyum. Tapi, lihat ada seseorang dibelakangnya. Seseorang itulah yang membuat sekeping hatimu remuk dan menjalar keseluruh hatimu. Nyeri, perih, dan berdarah. Memang tak salah mencintainya. Namun, apa gunanya mencintai seseorang jika kita melukai diri kita sendiri? Apa gunanya mencintai seseorang jika kita hanya menjadi bayangannya? Seperti gelas sajalah, semakin kau genggam erat dan tertekan, gelas itu pecah dan melukai jari-jemari kita. Semakin kita mempertahankan rasa itu, semakin hati kita berdarah-darah.

            Lihat dia, pernah dia menengok kita? Pernah dia peduli segala hal tentang kita? TIDAK. Lalu, bagaimana nasib rindu ini? Rindu yang selalu ada. Hmm, aku sih biarkan saja rindu itu membeku dan semakin membeku. Tak peduli akan pernah cair atau tidak. Yang penting bekukan rindu itu hingga benar-benar dingin dan bisa mematikan rindu itu sendiri. Jadi, bukan cair dan lega. Namun, dibekukan dan terus dibekukan hingga dingin membuat rindu terasa kaku. 

0 komentar:

Posting Komentar