Kupandang sosok itu,
Terdiam ku terpaku
Aku tahu…
Aku kenal…
Akupun hafal sosoknya…
Ingin menyentuhnya,
Merengkuhnya…
Kembali dalam lingkaran hidupnya
Menapaki setiap detik langkahnya
Namun,
Apa daya
Aku telah jadi bayang hitam,
Kelam,
Tak terlihat,
Hanya bisa terdiam
Tanpa simpul dibibir
Menyentuhnya tapi tak menyentuh…
Tau
nggak maksud dari puisi itu? Sebenarnya puisi itu, puisi yang isinya
penyesalan. Iya, menyesal. Gampangnya nih, aku dulu punya seseorang yang
berharga. Tapi, karena suatu keadaan, aku harus pergi dari kehidupannya. Bisa
saja karena aku sudah tak bisa menerima perlakuannya. Setelah beberapa saat
pergi, sebenarnya aku ingin kembali dalam kehidupannya. Namun, entah karena apa
hati tetap menolak. Pikiranku tetap kukuh untuk kembali ke keputusan awalku.
Menyentuhnya tapi tak menyentuh… iya, aku seperti itulah sekarang. Menyentuh
kehidupannya, menyentuh kesalahannya agar jadi benar, tapi semua itu kulakukan
tanpa dia tahu. Kulakukan dengan perantara orang lain.
Yaa…
sekarang aku dapat pembuktian bahwa penyesalan datang akhir memang. Bahkan,
dengan keputusan kita sendiri. Namun, semua itu tak dapat diulang. Bahkan,
sudah muncul penyesalanpun tetap hati tak bisa menerima hal yang dulu-dulu.
Meskipun bukan aku sendiri yang mengalaminya. Tapi, dengan membuat puisi itu
aku bisa tau, menjaga seseorang yang kita sayangi adalah sulit. Memelihara
hatinya tak bisa dikatakan mudah. Memang harus tau batasannya. Kapan kita harus
menggenggam erat dirinya dan kapan kita harus lebih melonggarkan genggaman kita
untuknya.
Semoga
postinganku kali ini bermanfaat untuk kalian yang membacanya. Kesimpulannya
jaga orang yang berharga untuk kita dan jangan ada penyesalan yang terlalu
larut. Kita harus bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang dibuat sendiri.
Satu lagi, yang palin penting adalah perbaiki kesalahan masa lalu untuk
menyilaukan masa depan. J
0 komentar:
Posting Komentar