Soal UN bocor???

Rabu, 16 April 2014



            Hmm, hari ini adalah hari terakhir teman-teman SMA kita melakukan Ujian Nasional. Kita doakan mereka agar mereka diberi hasil yang terbaik yuk… semoga mereka juga melanjutkan ke Universitas yang diinginkan (semoga tahun depan saya juga lancar,hehehe).
            Eh tapi tadi pagi saya lihat berita di televisi. Ternyata, kok masih ada ya yang beli kunci buat Ujian Nasional. Padahal, harganya jutaan gitu :3 kalo menurutku sih, mending dibuat hal lain yang lebih bermanfaat. Modelnya tuh macem-macem, ada yang patungan satu sekolah ada juga yang patungan antar sekolah -______-

            Kalau menurut kalian gimana sih hal seperti itu harus disikapi? Apakah harus dengan cara seperti itu jika kita takut dan khawatir dengan Ujian Nasional? Kalau menurutku sih, Ujian Nasional kan sebuah sarana untuk menguji seberapa jauh kita memahami materi selama tiga tahun belajar. Nah, jika itu kita sikapi dengan membeli kunci jawaban, apakah itu sudah menguji kemampuan kita? Tentu saja tidak kan? Apakah nantinya nilai yang keluar di ijazah kita adalah nilai kita? Tidak juga kan? Bahkan kita malah tak tahu seberapa jauh usaha dan kemampuan kita terhadap materi. Bukankan kewajiban pelajar memang untuk belajar? Memang kadang saya juga merasa jenuh dengan pelajaran. Tapi, selama kita masih bisa mengontrol kemalasan itu untuk hal yang wajar menurutku masih tak apa-apa.
Nah, kembali ke topik, hehe. Lantas jika penerus bangsa Indonesia hanya modal beli kunci jawaban, mau dikemanakan masa depan bangsa ini? Kapan Indonesia akan mendongkrak dunia? Coba renungkan kerugian-kerugiannya. Siswa yang membeli kunci jawaban tidak akan pernah mempunyai rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, siswa tidak akan merasakan manisnya setelah perjuangan, siswa tak akan pernah mandiri, dan yang paling mengkhawatirkan siswa tak tahu seberapa besar ia memahami materi yang ada. 
nah tuh, jadiin pedoman keren bangett tuh


Ayolah, generasi muda, sadar akan kemampuan kalian. Kalian itu sebenarnya bisa menyelesaikan semua soal UN dengan kemampuan kalian sendiri. Bukankah kalian sudah dikaruniai otak dan akal untuk berpikir dan menggunakannya semaksimal mungkin untuk hal-hal yang baik? Untuk mengembangkan diri kalian dan kesuksesan kalian sendiri. Kesuksesan kalian itu bisa membanggakan Indonesia dan bisa membesarkan nama Indonesia di mata dunia.kalian pasti mau kan dikenal didunia sebagai orang pintar dan hebat? Mari kawan-kawanku ubah pola pikir yang seperti itu. Ayo kita coba berusaha dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Agar usaha kita yang mulia itu ada hasilnya. Kita belajar dengan semaksimal mungkin, kita berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan, dan kita pasti akan mencapai semua itu. Memang usaha tidak menjamin kesuksesan, tapi bukankah kesuksesan itu selalu butuh usaha kan Kawan?
Yukss, kita berusaha semaksimal mungkin agar kita bisa meraih kesuksesan dengan indah Kawan, Allah selalu bersama kita ;)

Bagaimana jika "Anak dan Ibu bertukar peran?"



            Salam semangat teman-temanku! :D
            Kali ini, aku mau berbagi cerita ke kalian tentang perjalanan pulangku kemarin hari Minggu, 13 April 2014. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dibalik itu. :)
            Hari Minggu yang sebenarnya hari libur, aku malah berangkat ke sekolah untuk mengerjakan tugas film bersama kelompok ku. Penasaran nggak cerita filmku kayak apa? Hehehe, nggak usah cerita sekarang deh ya :p besok-besok insyaAllah aku post ceritanya :D
            Nah, setelah selesai ngartis kecil-kecilan, aku bersama temanku sholat dahulu di musholla sekolah kita. Karena sudah mendung, kami menyegerakan pulang agar tak kehujanan. Aku pulang naik kendaraan umum. Biasanya kendaraan umum yang aku tumpangi selalu berhenti lama di Perdana.
            Ini nih mulai ceritanya. Karena ini hari Minggu, tentu saja ngetemnya lama banget. Aku mulai bosan dan sedikit menggerutu. Tiba-tiba, ada dua penumpang masuk ke kendaraan yang aku tumpangi. Seorang anak dan seorang ibu, aku mendengar percakapannya.
            “Ayo Mak, naik. Lewat sini, hati-hati jangan sampai jatuh,” kata anak itu. Aku sempat berfikir, kenapa orang tua masuk kendaraan umum harus dituntun dahulu? Padahal, ibu itu masih terlihat sehat-sehat saja. Aku mengamati mereka. Oh! Ternyata ibu itu tak bisa melihat dunia, ibu itu tak bisa menikmati kilauan cahaya matahari, dan ibu itu tak bisa melihat indahnya warna dunia. Ibu itu buta. Aku benar-benar tercengang ketika melihat keadaan mereka dan mendengar kelanjutan percakapan mereka. Biasanya jika berbelanja bersama, sang ibulah yang membawa belajaan. Anaknya menggandeng ibunya penuh manja. Biasanya sang ibu yang mengatur uang agar bisa cukup. Anaknya meminta ini itu. Tapi… ini tak seperti itu, anaknya yang membawa seluruh belanjaan dan,
            “Mak, uangnya Alhamdulillah masih cukup untuk membeli kebutuhan besok. Masih sisa banyak Mak. Tadi, aku menawar harga banyak, jadi masih sisa banyak uangnya,”
            “Iya Nak Alhamdulillah,”
            “Hehehe iya Mak. Aku senang kita bisa berbelanja lagi,”
            “Iya Nak, pasta giginya nggak lupa kan?”
            “Enggak dong Mak, nih nih pegang. Bener kan ini pasta giginya?” ibunya hanya mengangguk.
            “Oiyaa Mak, tadi Mak minta apa? Roti kan? Aku belikan yang rasa pandan, tadi adanya coklat sama pandan. Mak nggak suka coklat kan? Ini Mak dimakan,”
            Hatiku benar-benar sakit mendengar kata-kata itu. Anak yang seharusnya bisa bermanja-manja dengan ibunya. Anak yang biasanya meminta dibelikan sesuatu oleh ibunya. Tapi, ini TIDAK! Mereka seperti bertukar peran. Benar-benar bertukar peran. Aku sempat mengira, anak ini pasti merasa kehilangan kebahagiaan masa kecilnya. Kau tahu, dia umur berapa? Menurutku, ia masih berumur tujuh tahun. Tujuh tahun yang seharusnya menyenangkan, tujuh tahun yang seharusnya penuh tawa kegembiraan oleh permainan, tujuh tahun yang terenggut begitu saja. Tapi, ternyata aku salah. Ia tetap bahagia, bahkan sangat bahagia. Lihatlah, ia menyanyi-nyanyi didalam bis ini. Banyak orang mengamatinya, tapi ia membalas tatapan itu dengan air muka gembira. Ia sama sekali tak merasa keberatan. Sama sekali tak merasa terenggut kebahagiaannya. Anak itu sangat mulia, kataku dalam hati.
            Bahagia untuknya sangat sederhana. Hanya bersama ibunya, berdua dengan ibunya, dan melihat ibunya tersenyum. Itu semua sudah cukup baginya. Allah memang luar biasa. Ia selalu bisa memberi sisi spesial untuk hamba-Nya. Selalu bisa memberi nikmat didalam hati hamba-Nya.
            Aku cuma berpikir, sebenarnya kebahagiaan itu memang sangat sederhana. Hati kitalah yang menentukan, apakah kita akan bahagia atau tidak. Bukan orang lain yang menentukan kebahagiaan dalam hidup kita. Tapi, kita sendiri. Memang hidup itu berat. Tapi bukannya yang berat itulah yang akan mengantarkan kita oada kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang kekal. Aku juga bertekad, akan mengurangi keluhanku dalam hidupku. Karena mengeluh terus menerus tanpa melakukan perubahan menuju lebih baik. Tak akan mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan.
            Udah dulu ya ceritanya :D semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari secuil kisah itu. Terimakasih sudah menyempatkan membaca. Tetap semangat dan jangan mudah menyerah Kawanku :D

Bersyukur dulu yuksss ... ;)

Rabu, 09 April 2014

Ah... hari ini , aku nggak masuk sekolah nih, gara-gara haku sakit. Lumayan juga nih, bisa istirahat dirumah hehehe. Lama-lama bosen juga rasanya dirumah. Nggak ketemu sama temen-temen. Temen yang biasanya bikin aku ketawa sampe nggak habis-habis. Tapi, disetiap kejadian pasti ada hikmahnya. Setiap jejak langkah hidup juga wajib disyukuri.


Nah, karena itu aku tetap mencoba bersyukur atas sakitku ini, hehehe. Kenapa hayo harus tetap bersyukur meskipun lagi sakit? Mmmm, karena artinya Allah masih memperhatikan kita, Allah masih sayang sama kita. Jadi, kita diberi rasa sakit. Lagi pula Allah sudah berfirman. Sakit dan musibah adalah penghapus dosa bagi seorang muslim. Lumayan kan, dosa kita berkurang, hehehe. Hal itu dijelaskan dalam hadis berikut :
" Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya." (H.R Bukhari No.5660 dan Muslim No.2571)
Hmm, jelas kan kalo gitu? Apapun keadaan kita harus tetap disyukuri meskipun kita nggak suka sama keadaan tersebut. Karena Allah lebih tau apa yang paling baik untuk kita. Mau tau buktinya? Allah sudah berfirman di Surah Al Baqarah ayat 216, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu amat menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui". Nah, mulai sekarang mari kita biasakan untuk mensyukuri apapun yang kita punya yuksss ;) . Selalu positive thinking atau bahasa kerennya selalu berhusnudzon kepada Allah. ;) Agar hidup kita terasa ringan dan selalu merasa cukup. Eiitssss, tapi nggak boleh pasrah gitu aja sama yang ada didalam diri kita. Tetap harus berusaha dan pantang menyerah dengan apa yang kita cita-citakan. Karena Allah juga suka banget kalo kita minta sesuatu ke Dia. Semakin kita sering meminta kepada-Nya InsyaAllah permintaan kita akan dikabulkan. Aamiin. Tapi dengan catatan lagi nih, hehehe, tujuan kita atas keinginan tersebut mulia bukan untuk pamer riya' ataupun hal-hal lainnya. Contohnya nih, aku pengen jadi dokter, nanti kalo udah jadi dokter aku mau pamer keseluruh dunia kalo aku jadi dokter. Dokter kan keren banyak duit lagi (hehe kayaknya alay deh ini). Niat itu perlu diluruskan misalnya, aku pengen jadi dokter biar aku bisa membantu orang-orang sakit. Kalo perlu aku mau mendirikan klinik untuk berobat orang-orang itu dan mereka dibebaskan dari biaya. Keren banget itu niatnya, hehehe.
Udah segini dulu aja yaa, secuil curhatanku hari ini. Semoga hari ini kita semua diberkahi oleh Allah dan semoga kita bisa menjadi manusia yang baik, lebih baik, dan akan terus menjadi lebih baik, aamiin. Satu kalimat lagi ah, Jangan menunggu bahagia untuk bersyukur tapi bersyukurlah untuk bahagia :)