Bagaimana jika "Anak dan Ibu bertukar peran?"

Rabu, 16 April 2014



            Salam semangat teman-temanku! :D
            Kali ini, aku mau berbagi cerita ke kalian tentang perjalanan pulangku kemarin hari Minggu, 13 April 2014. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dibalik itu. :)
            Hari Minggu yang sebenarnya hari libur, aku malah berangkat ke sekolah untuk mengerjakan tugas film bersama kelompok ku. Penasaran nggak cerita filmku kayak apa? Hehehe, nggak usah cerita sekarang deh ya :p besok-besok insyaAllah aku post ceritanya :D
            Nah, setelah selesai ngartis kecil-kecilan, aku bersama temanku sholat dahulu di musholla sekolah kita. Karena sudah mendung, kami menyegerakan pulang agar tak kehujanan. Aku pulang naik kendaraan umum. Biasanya kendaraan umum yang aku tumpangi selalu berhenti lama di Perdana.
            Ini nih mulai ceritanya. Karena ini hari Minggu, tentu saja ngetemnya lama banget. Aku mulai bosan dan sedikit menggerutu. Tiba-tiba, ada dua penumpang masuk ke kendaraan yang aku tumpangi. Seorang anak dan seorang ibu, aku mendengar percakapannya.
            “Ayo Mak, naik. Lewat sini, hati-hati jangan sampai jatuh,” kata anak itu. Aku sempat berfikir, kenapa orang tua masuk kendaraan umum harus dituntun dahulu? Padahal, ibu itu masih terlihat sehat-sehat saja. Aku mengamati mereka. Oh! Ternyata ibu itu tak bisa melihat dunia, ibu itu tak bisa menikmati kilauan cahaya matahari, dan ibu itu tak bisa melihat indahnya warna dunia. Ibu itu buta. Aku benar-benar tercengang ketika melihat keadaan mereka dan mendengar kelanjutan percakapan mereka. Biasanya jika berbelanja bersama, sang ibulah yang membawa belajaan. Anaknya menggandeng ibunya penuh manja. Biasanya sang ibu yang mengatur uang agar bisa cukup. Anaknya meminta ini itu. Tapi… ini tak seperti itu, anaknya yang membawa seluruh belanjaan dan,
            “Mak, uangnya Alhamdulillah masih cukup untuk membeli kebutuhan besok. Masih sisa banyak Mak. Tadi, aku menawar harga banyak, jadi masih sisa banyak uangnya,”
            “Iya Nak Alhamdulillah,”
            “Hehehe iya Mak. Aku senang kita bisa berbelanja lagi,”
            “Iya Nak, pasta giginya nggak lupa kan?”
            “Enggak dong Mak, nih nih pegang. Bener kan ini pasta giginya?” ibunya hanya mengangguk.
            “Oiyaa Mak, tadi Mak minta apa? Roti kan? Aku belikan yang rasa pandan, tadi adanya coklat sama pandan. Mak nggak suka coklat kan? Ini Mak dimakan,”
            Hatiku benar-benar sakit mendengar kata-kata itu. Anak yang seharusnya bisa bermanja-manja dengan ibunya. Anak yang biasanya meminta dibelikan sesuatu oleh ibunya. Tapi, ini TIDAK! Mereka seperti bertukar peran. Benar-benar bertukar peran. Aku sempat mengira, anak ini pasti merasa kehilangan kebahagiaan masa kecilnya. Kau tahu, dia umur berapa? Menurutku, ia masih berumur tujuh tahun. Tujuh tahun yang seharusnya menyenangkan, tujuh tahun yang seharusnya penuh tawa kegembiraan oleh permainan, tujuh tahun yang terenggut begitu saja. Tapi, ternyata aku salah. Ia tetap bahagia, bahkan sangat bahagia. Lihatlah, ia menyanyi-nyanyi didalam bis ini. Banyak orang mengamatinya, tapi ia membalas tatapan itu dengan air muka gembira. Ia sama sekali tak merasa keberatan. Sama sekali tak merasa terenggut kebahagiaannya. Anak itu sangat mulia, kataku dalam hati.
            Bahagia untuknya sangat sederhana. Hanya bersama ibunya, berdua dengan ibunya, dan melihat ibunya tersenyum. Itu semua sudah cukup baginya. Allah memang luar biasa. Ia selalu bisa memberi sisi spesial untuk hamba-Nya. Selalu bisa memberi nikmat didalam hati hamba-Nya.
            Aku cuma berpikir, sebenarnya kebahagiaan itu memang sangat sederhana. Hati kitalah yang menentukan, apakah kita akan bahagia atau tidak. Bukan orang lain yang menentukan kebahagiaan dalam hidup kita. Tapi, kita sendiri. Memang hidup itu berat. Tapi bukannya yang berat itulah yang akan mengantarkan kita oada kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang kekal. Aku juga bertekad, akan mengurangi keluhanku dalam hidupku. Karena mengeluh terus menerus tanpa melakukan perubahan menuju lebih baik. Tak akan mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan.
            Udah dulu ya ceritanya :D semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari secuil kisah itu. Terimakasih sudah menyempatkan membaca. Tetap semangat dan jangan mudah menyerah Kawanku :D

0 komentar:

Posting Komentar