Salam
semangat teman-temanku! :D
Kali
ini, aku mau berbagi cerita ke kalian tentang perjalanan pulangku kemarin hari
Minggu, 13 April 2014. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dibalik itu. :)
Hari
Minggu yang sebenarnya hari libur, aku malah berangkat ke sekolah untuk
mengerjakan tugas film bersama kelompok ku. Penasaran nggak cerita filmku kayak
apa? Hehehe, nggak usah cerita sekarang deh ya :p besok-besok insyaAllah aku
post ceritanya :D
Nah,
setelah selesai ngartis kecil-kecilan, aku bersama temanku sholat dahulu di
musholla sekolah kita. Karena sudah mendung, kami menyegerakan pulang agar tak
kehujanan. Aku pulang naik kendaraan umum. Biasanya kendaraan umum yang aku
tumpangi selalu berhenti lama di Perdana.
Ini
nih mulai ceritanya. Karena ini hari Minggu, tentu saja ngetemnya lama banget.
Aku mulai bosan dan sedikit menggerutu. Tiba-tiba, ada dua penumpang masuk ke
kendaraan yang aku tumpangi. Seorang anak dan seorang ibu, aku mendengar
percakapannya.
“Ayo
Mak, naik. Lewat sini, hati-hati jangan sampai jatuh,” kata anak itu. Aku
sempat berfikir, kenapa orang tua masuk kendaraan umum harus dituntun dahulu?
Padahal, ibu itu masih terlihat sehat-sehat saja. Aku mengamati mereka. Oh!
Ternyata ibu itu tak bisa melihat dunia, ibu itu tak bisa menikmati kilauan
cahaya matahari, dan ibu itu tak bisa melihat indahnya warna dunia. Ibu itu
buta. Aku benar-benar tercengang ketika melihat keadaan mereka dan mendengar
kelanjutan percakapan mereka. Biasanya jika berbelanja bersama, sang ibulah
yang membawa belajaan. Anaknya menggandeng ibunya penuh manja. Biasanya sang
ibu yang mengatur uang agar bisa cukup. Anaknya meminta ini itu. Tapi… ini tak
seperti itu, anaknya yang membawa seluruh belanjaan dan,
“Mak,
uangnya Alhamdulillah masih cukup untuk membeli kebutuhan besok. Masih sisa
banyak Mak. Tadi, aku menawar harga banyak, jadi masih sisa banyak uangnya,”
“Iya
Nak Alhamdulillah,”
“Hehehe
iya Mak. Aku senang kita bisa berbelanja lagi,”
“Iya
Nak, pasta giginya nggak lupa kan?”
“Enggak
dong Mak, nih nih pegang. Bener kan ini pasta giginya?” ibunya hanya
mengangguk.
“Oiyaa
Mak, tadi Mak minta apa? Roti kan? Aku belikan yang rasa pandan, tadi adanya
coklat sama pandan. Mak nggak suka coklat kan? Ini Mak dimakan,”
Hatiku
benar-benar sakit mendengar kata-kata itu. Anak yang seharusnya bisa
bermanja-manja dengan ibunya. Anak yang biasanya meminta dibelikan sesuatu oleh
ibunya. Tapi, ini TIDAK! Mereka seperti bertukar peran. Benar-benar bertukar
peran. Aku sempat mengira, anak ini pasti merasa kehilangan kebahagiaan masa
kecilnya. Kau tahu, dia umur berapa? Menurutku, ia masih berumur tujuh tahun.
Tujuh tahun yang seharusnya menyenangkan, tujuh tahun yang seharusnya penuh
tawa kegembiraan oleh permainan, tujuh tahun yang terenggut begitu saja. Tapi,
ternyata aku salah. Ia tetap bahagia, bahkan sangat bahagia. Lihatlah, ia
menyanyi-nyanyi didalam bis ini. Banyak orang mengamatinya, tapi ia membalas
tatapan itu dengan air muka gembira. Ia sama sekali tak merasa keberatan. Sama
sekali tak merasa terenggut kebahagiaannya. Anak itu sangat mulia, kataku dalam
hati.
Bahagia
untuknya sangat sederhana. Hanya bersama ibunya, berdua dengan ibunya, dan
melihat ibunya tersenyum. Itu semua sudah cukup baginya. Allah memang luar
biasa. Ia selalu bisa memberi sisi spesial untuk hamba-Nya. Selalu bisa memberi
nikmat didalam hati hamba-Nya.
Aku
cuma berpikir, sebenarnya kebahagiaan itu memang sangat sederhana. Hati kitalah
yang menentukan, apakah kita akan bahagia atau tidak. Bukan orang lain yang
menentukan kebahagiaan dalam hidup kita. Tapi, kita sendiri. Memang hidup itu
berat. Tapi bukannya yang berat itulah yang akan mengantarkan kita oada
kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang kekal. Aku juga bertekad, akan
mengurangi keluhanku dalam hidupku. Karena mengeluh terus menerus tanpa
melakukan perubahan menuju lebih baik. Tak akan mengubah penderitaan menjadi
kebahagiaan.
Udah
dulu ya ceritanya :D semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari secuil kisah
itu. Terimakasih sudah menyempatkan membaca. Tetap semangat dan jangan mudah
menyerah Kawanku :D
0 komentar:
Posting Komentar