Kali ini, aku akan bercerita
sesuatu tentang kesalahan menempatkan sesuatu. Sesuatu itu, tentang perasaan.
Hmm, perasaan. Siapa sih yang tahu isi hati seseorang yang sebenarnya, entah
sama yang diucapkan atau tidak. Tapi, kalau kita tau makna kepercayaan,
seharusnya kita harus menyelaraskan kata dan hati. Terkadang memang susah.
Namun, akibatnya akan lebih banyak jika kata dan hati tak sejalan. Oke, akan
aku mulai sekarang.
Pernah
merasakan jatuh cinta pada seseorang? | Pasti pernah. | Pernah menyayangi
seseorang yang sudah punya kekasih? | Hmm, pernah juga. | Menurutmu, itu hal
salah atau tidak? | Tidak salah, sah-sah saja kita menyayangi seseorang yang
masih punya kekasih.
Benar
sekali, sah-sah saja memang. Tapi, coba fikirkan. Bagaimana caramu
menyayanginya? Apakah sudah tepat? Ingat satu hal, dia sudah memiliki kekasih.
Lalu, harus apa? Menghentikan rasa ini begitu saja? Semua orang paham, jikalau
menghentikan rasa cinta, amatlah susah. Apalagi, orang itu sangat berkesan. J
Jadi, tak mungkin melupakannya begitu saja. Kau boleh mencintainya. Kau boleh
tau kabarnya. Bahkan, kau boleh terus menyayanginya tanpa henti. Tapi, kau tak
boleh mengajaknya bertemu hanya berdua. Kau tak boleh mendahului kekasihnya.
Ingat itu. Kau tahu kenapa? Iya, benar. Karena dia sudah ada yang memiliki. Kau
juga pasti tahu rasanya, jika kekasih yang amat kau cintai malah bertemu dengan
orang yang juga mencintai kekasihmu dan kau tak pernah tau pertemuan itu.
Bagaimana rasanya? Sakit kan? Iya pasti sakit. Semua orang pun tahu.
Namun,
sadarkah kau? Bahwa perasaan itu sebenarnya sangat mengganggu hatimu? Sangat
melukai hatimu. Meskipun kau bisa berkata, aku
tak apa-apa, melihatnya tersenyumpun aku juga tersenyum. Tak seutuhnya
kata-kata itu benar. Memang kau bisa bahagia melihatnya tersenyum. Tapi, lihat
ada seseorang dibelakangnya. Seseorang itulah yang membuat sekeping hatimu
remuk dan menjalar keseluruh hatimu. Nyeri, perih, dan berdarah. Memang tak
salah mencintainya. Namun, apa gunanya mencintai seseorang jika kita melukai
diri kita sendiri? Apa gunanya mencintai seseorang jika kita hanya menjadi
bayangannya? Seperti gelas sajalah, semakin kau genggam erat dan tertekan,
gelas itu pecah dan melukai jari-jemari kita. Semakin kita mempertahankan rasa
itu, semakin hati kita berdarah-darah.
Lihat
dia, pernah dia menengok kita? Pernah dia peduli segala hal tentang kita?
TIDAK. Lalu, bagaimana nasib rindu ini? Rindu yang selalu ada. Hmm, aku sih
biarkan saja rindu itu membeku dan semakin membeku. Tak peduli akan pernah cair
atau tidak. Yang penting bekukan rindu itu hingga benar-benar dingin dan bisa
mematikan rindu itu sendiri. Jadi, bukan cair dan lega. Namun, dibekukan dan
terus dibekukan hingga dingin membuat rindu terasa kaku.

