Salahkah Perasaan ini?

Sabtu, 17 Mei 2014

            Kali ini, aku akan bercerita sesuatu tentang kesalahan menempatkan sesuatu. Sesuatu itu, tentang perasaan. Hmm, perasaan. Siapa sih yang tahu isi hati seseorang yang sebenarnya, entah sama yang diucapkan atau tidak. Tapi, kalau kita tau makna kepercayaan, seharusnya kita harus menyelaraskan kata dan hati. Terkadang memang susah. Namun, akibatnya akan lebih banyak jika kata dan hati tak sejalan. Oke, akan aku mulai sekarang.
            Pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang? | Pasti pernah. | Pernah menyayangi seseorang yang sudah punya kekasih? | Hmm, pernah juga. | Menurutmu, itu hal salah atau tidak? | Tidak salah, sah-sah saja kita menyayangi seseorang yang masih punya kekasih.
            Benar sekali, sah-sah saja memang. Tapi, coba fikirkan. Bagaimana caramu menyayanginya? Apakah sudah tepat? Ingat satu hal, dia sudah memiliki kekasih. Lalu, harus apa? Menghentikan rasa ini begitu saja? Semua orang paham, jikalau menghentikan rasa cinta, amatlah susah. Apalagi, orang itu sangat berkesan. J Jadi, tak mungkin melupakannya begitu saja. Kau boleh mencintainya. Kau boleh tau kabarnya. Bahkan, kau boleh terus menyayanginya tanpa henti. Tapi, kau tak boleh mengajaknya bertemu hanya berdua. Kau tak boleh mendahului kekasihnya. Ingat itu. Kau tahu kenapa? Iya, benar. Karena dia sudah ada yang memiliki. Kau juga pasti tahu rasanya, jika kekasih yang amat kau cintai malah bertemu dengan orang yang juga mencintai kekasihmu dan kau tak pernah tau pertemuan itu. Bagaimana rasanya? Sakit kan? Iya pasti sakit. Semua orang pun tahu.
            Namun, sadarkah kau? Bahwa perasaan itu sebenarnya sangat mengganggu hatimu? Sangat melukai hatimu. Meskipun kau bisa berkata, aku tak apa-apa, melihatnya tersenyumpun aku juga tersenyum. Tak seutuhnya kata-kata itu benar. Memang kau bisa bahagia melihatnya tersenyum. Tapi, lihat ada seseorang dibelakangnya. Seseorang itulah yang membuat sekeping hatimu remuk dan menjalar keseluruh hatimu. Nyeri, perih, dan berdarah. Memang tak salah mencintainya. Namun, apa gunanya mencintai seseorang jika kita melukai diri kita sendiri? Apa gunanya mencintai seseorang jika kita hanya menjadi bayangannya? Seperti gelas sajalah, semakin kau genggam erat dan tertekan, gelas itu pecah dan melukai jari-jemari kita. Semakin kita mempertahankan rasa itu, semakin hati kita berdarah-darah.

            Lihat dia, pernah dia menengok kita? Pernah dia peduli segala hal tentang kita? TIDAK. Lalu, bagaimana nasib rindu ini? Rindu yang selalu ada. Hmm, aku sih biarkan saja rindu itu membeku dan semakin membeku. Tak peduli akan pernah cair atau tidak. Yang penting bekukan rindu itu hingga benar-benar dingin dan bisa mematikan rindu itu sendiri. Jadi, bukan cair dan lega. Namun, dibekukan dan terus dibekukan hingga dingin membuat rindu terasa kaku. 

Entah Perasaan Apa

Kamis, 15 Mei 2014

            Ternyata sudah lima tahun aku meninggalkan kampus ini. Kampus tempatku menimba segala ilmu. Juga tempat bertemu banyak kawan. Hmm, itu kelasku. Kelas yang membawa banyak cerita. Detik-detik menimba ilmu, was-was hasil ujian, dan kenangan itu.
Baru kusadari, tepat disini, tempatku berdiri adalah suatu tempat dimana dulu aku suka mengamatinya. Iya, mengamatinya. Dia yang membuatku merasakan sesuatu hal yang aneh. Sesuatu yang berbeda dari biasanya. Entah itu perasaan apa. Yang kutahu, terselip rasa bahagia jika aku memandangnya tersenyum. Juga terselip rasa sedih dan kecewa jika memandangnya bersedih. Ah dia, dia yang tak pernah tahu jika aku  mengamatinya. Dia yang tak pernah tahu jika aku selalu ada disela-sela keramaiannya. Dia yang tak pernah menyadari keberadaanku. Tapi tak apa, sudah cukup bagiku memandangnya bahagia. Memandangnya tersenyum dalam hari-harinya dan memandangnya bercanda ria dengan kawannya. Sebenarnya, jarakku dengannya dekat, sangat dekat. Hanya saja, hati kita yang tak pernah dekat. Sekalipun tak pernah dekat. Hal inilah yang terkadang membuat hatiku sedikit tergores.  
Hmm, aku jadi ingat kejadian itu. Suatu kejadian yang selalu ku kenang, jika dia muncul dalam memoriku. Detik-detik ketika pertama dia berbicara padaku, sekaligus kali pertama ku berbincang dengannya. Singkat sebenarnya, bahkan sangat sepele, namun kesannya sangat mendalam.
“Hai,” sapanya.
“Mmm, hai juga,” balasku.
“Kita selalu sekelas namun tak pernah berbincang ya,” katanya sambil tersenyum. Senyum itulah yang membuatku selalu ingat. Senyum manisnya, senyum tulusnya, dan senyum yang tak terlupakan.
“Mmm, iya. Kita tak pernah berbincang,” saat itu, aku benar-benar tak tau apa yang harus kukatakan. Memandangnya dari jauh sudah membuatku tersenyum senang. Apalagi, didepannya persis.
“Eh, maaf udah dulu. Aku ada urusan,”
Sudah, hanya itu percakapanku dengannya. Ah, biarlah. Walaupun sebentar tetap ada kenangan. Saat itu aku benar-benar tak ada pemikiran untuk mendekatinya, mengenalnya lebih jauh, dan mengatakan perasaan yang sebenarnya aku tak tau perasaan apa ini.
            Setiap malam, aku hanya bisa berkirim salam lewat bulan. Bulan sabit, bulan purnama, dan bulan-bulan yang lain. Entah tersampaikan atau tidak, yang jelas selalu tak ada salam balasan darinya. Bulan juga tahu semuanya, karena dialah tempatku bercerita segala hal tentangnya. Terkadang sinarnya yang redup menandakan dia ikut bersedih atas hatiku ini. Ketika ku bercerita bahagia, sinarnya pun semakin terpancar. Bulan memang baik. Selalu menemaniku dalam mengenangnya.
            Ah, sudah lima tahun juga aku tak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Berada dimana dia sekarang? Seperti apa senyumnya sekarang? Ah, ternyata aku rindu dirinya. Rindu ketidaksadarannya ketika aku mengamatinya. Rindu langkah kakinya menuju kelas. Serta satu hal yang paling kurindukan, senyumannya.
            Sudah ah sudah, sudah cukup aku mengenangnya sekarang. Mengenangnya ditempat ini. Tapi, tiba-tiba…

            “Hai, kau teman sekelasku yang tak pernah berbincang denganku,” kata seseorang. Eh, ini kan, ini dia. Dia dengan keadaannya yang baik-baik saja. Dia berada disini, dan senyumannya…
            Hmm, penantianku untuk bertemu dengannya. Kini tlah terwujud. Ternyata, penantianku tak terbuang sia-sia. Terimakasih Tuhan ….

Kepercayaan yang Tlah Retak

Bisakah kepercayaan retak begitu saja? SANGAT BISA ! Kenapa? Karena yang diberi kepercayaan TAK BISA MENJAGANYA. Lantas bagaimana? Oke cermati kata-kata ini,
A : pegang gelas ini
B : lalu? untuk apa?
A : jatuhkan ke tanah!
B : (menjatuhkan)
A : bagaimana keadaannya?
B : pecah dan hancur
A : bisakah kau mengembalikan keadaannya menjadi utuh kembali?
B : tidak. tak akan pernah bisa.
A : begitu pula hati. Sekarang kau tahu keadaan hatiku.
B : .........
Nah, begitu pula kepercayaan. Mungkin orang yang dikhianati bisa tersenyum saat berada didepanmu. Tapi, taukah kau? Didalam hatinya bagai sungai yang menganak sungai deras menjatuhkan air mata. Lalu, apakah kau tau bagaimana rasanya menangis didalam hati? Rasanya berjuta kali lebih sakit  dari pada menangis air mata. Semakin kau tahan tangismu, maka sungai itu malah akan semakin deras mengalir dihatimu. Rasanya ada sejuta kapas yang menyesaki hatimu. Membuatmu sesak untuk mencari kebebasan. Dadamu sulit bernafas. Membuat seluruh tubuhmu lemas tak berdaya. Semakin deras air matamu, hatimu akan semakin berdarah-darah semakin parah.
Maka, jangan pernah sekali-kali kau terlalu mengharap pada SESEORANG. Karena seseorang itu bisa membuatmu menangis tanpa henti. Sadarilah, air matamu sangat berharga sangat sia-sia jika HANYA menangisi orang yang telah menyakitimu.
Cintai dirimu sendiri, simpan air matamu untuk kebahagiaanmu di masa depan yang sangat mengharukan. :)

Detik Memori

Rabu, 14 Mei 2014


Memori, apa sih memori menurut kalian para Blogger? Hmm, mungkin akan ada yang mengatakan memori adalah masa lalu, atau memori adalah sesuatu yang tak akan terlupakan, bisa juga memori adalah rekaman jejak hidup yang mengesankan. Ya, menurutku semua itu benar.
Bagiku, memori akan selalu teringat, tersimpan, dan abadi di ingatan kita. Pernah suatu ketika temanku berkata, “Aku tidak akan pernah bisa melupakan dia dan semua yang terkait dengannya, karena dia sudah menjadi sebuah memori yang terekam. Menjadi sebuah memori yang mengendap di ingatanku. Meskipun sekarang dia tlah hilang,” menurutku kata-kata itu  benar adanya.
Memori memang tak akan bisa terlupakan begitu saja. Meskipun nyatanya semua itu tlah hilang entah kemana dan semua itu tlah pergi seperti debu tersapu angin. Tapi, masih atau tidaknya keadaan itu tak akan mempengaruhi kesan memori. Kesan yang begitu mendalam. Bahagia tetap bahagia. Istimewa tetap istimewa. Sedih tetap sedih. Bahkan, sakit akan tetap sakit.
Memori memang tak akan bisa terlupakan begitu saja. Apalagi, terdapat rekaman nyata dari sang memori. Foto, lagu kenangan, bahkan barang dari seseorang. Setiap kita melihatnya, secara otomatis akan berkelebat semua kejadian yang berkaitan dengannya. Berputar terus-menerus seperti sebuah kaset yang diputar berulang-ulang. Seperti tak mau dihentikan. Seketika itu juga, kita seperti diseret kembali ke waktu itu. Waktu ketika semuanya terjadi. Tak apalah, jikalau memori itu membuat kita tersenyum bahkan tertawa. Yang menyedihkan jika memori itu adalah memori yang selalu berhasil membuat air mata menganak sungai. Pastilah, rasanya akan semakin sakit. Bahkan lebih sakit dibanding kejadian dulu. Ya, karena semua itu hanyalah sebuah memori. Sebuah memori yang tak bisa diulang. Memori yang bisa membuat kita sendu, merenung, bersedih, atau apapun itu.
Tapi, tak apalah. Toh dengan memori yang sejahat itu. Lihatlah, pasti sekarang kau bisa beranjak dewasa. Kau lebih bisa mempelajari hidup. Pastilah, kau belajar dari kesalahan itu. Toh hidup juga berisi tangis dan bahagia. Semua itu satu paket. Sadarilah, ketika kau merasa sangat sedih, tiba-tiba ada sesuatu yang membuatmu bahagia. Semua itu hanya ingin memberitahumu bagaimana rasa bahagia. Semua itu hanya akan mengingatkanmu bahwa tangis dan bahagia itu satu paket. Ya SATU PAKET. Karena itulah, tak sepantasnya kita merengek akan kesedihan. Tak sepantasnya kita menyalahkan takdir yang ada. Apalagi, menyalahkan Tuhan atas kesulitan yang ada. Satu-satunya yang pantas kita lakukan adalah bagaimana kita membuat diri kita bahagia dan apa sesuatu yang bisa kita ambil dari kesedihan itu.
So, mulai sekarang. Tersenyumlah! Tersenyumlah, karena dunia sangat menantikan senyum manismu. Dunia sangat membutuhkan kebahagiaanmu! Semangat! Hammasah selalu! :)

Percayalah... :)

Kamis, 08 Mei 2014


Masih selalu tempat ini. Disudut gedung, di lantai atas. Tempat dimana aku bisa memandang seluruh kota. Tempatku berpijak menatap cakrawala angkasa. Juga suatu tempat dimana kau memberi setangkai mawar padaku. Hmm, iya. Kau orang pertama yang memberi sejuta memori padaku. Dari sekian orang yang berlalu lalang dalam hidupku, hanya kau yang mampu menancapkan kesan indah dihati. Ya, bukan cinta pertama memang. Tapi, sebuah cinta yang mengajariku bagaimana cara saling percaya dan saling mengerti. Kau mengajariku lewat kerlap-kerlip bintang, lewat putih terangnya sinar rembulan, dan lewat mawar itu. 


Iya, mawar merah merekah itu. Masih selalu kuingat dan akan selalu kusimpan. Meskipun, mawar itu sudah mengering dan sudah mulai hancur. Tak akan kubuang, seperti apapun wujudnya. Mawar yang kau berikan bersama indahnya pelangi sore itu.
Aku terdiam…
Aku tak bisa berkata apapun…
Bibirku kelu…
Hanya mataku yang mengalirkan butir-butir kegembiraan.

Saat itu, kau akan pergi meninggalkanku dengan membawa kepastian hati kepadaku. Saat itu juga hati kita terikat dan diuji untuk saling menjaga kepercayaan. Lama memang. Tapi, bagaimana lagi? Aku tak bisa melakukan apapun selain menantimu disini. Menanti kedatanganmu ke kota ini untuk melebur semua kerinduan didalam batinku.
Seperti malam ini, setiap kerinduan semakin membeku, aku selalu menuju tempat ini. Ya, sekedar mengamati kerlap-kerlip bintang dan merasakan sinar rembulan. Bagiku, melakukan hal itu sama seperti merasakan hadirmu disini, disampingku. Sedikit mencairkan kerinduanku.
Menanti dan ada jarak itu memang sulit. Tapi, itu lebih baik daripada aku tak tahu perasaanmu sama sekali. Cukuplah bunga mawar itu yang menemani hari-hariku saat ini. Yang menemaniku untuk menantimu disini. Aku tahu, kau disana juga pasti berat melalui hari-harimu. Tapi aku percaya, kamu mampu menjaga hatimu untukku. Karena disini akupun begitu. Tolong, jika suatu hari kau mendengar kabar buruk tentang kesetiaanku, tentang aku tak menjaga hatimu, itu pasti tidak benar. Aku disini yang selalu mencoba menerawang wajahmu. Mencoba merasakan nyaman pundakmu. Dan selalu merasakan hadirmu disini.
Kau tahu? Setiap malam kau selalu menelusup disetiap mimpiku. Membuat mimpi-mimpiku menjadi indah. Kau selalu merajut cerita indah dimimpi-mimpiku. Bahkan, aku selalu ingin bisa tidur lebih lama, agar aku bisa bersamamu lebih lama.
Ah, kepercayaan. Memang sesuatu yang sulit dilakukan, sesuatu yang sangat berat dijaga bersama. Bahkan, kadang timbul rasa takut kalau-kalau dia menghianati. Kalau-kalau dia membohongi. Tapi, tanpa kepercayaan semuanya akan berakhir. Kesetiaanpun harus dijaga dan dipupuk. Haruslah kita sadar kalau hati kita sudah ada yang memiliki. Hati kita sudah dipercayakan pada hati yang disana. Tak usahlah tengak-tengok kesana kemari. Lihatlah apa yang kita punya. Pasti itu yang terbaik untuk kita. Jaga yang kita punya, jangan sampai suatu saat tiba-tiba ia menghilang lantaran kita terlalu menggenggam erat atau yang lebih parah genggaman kita melonggar. 
Hmm, jauh dekat. Sepertinya, menjadi sama sajalah bagiku. Jikalau dekat tapi malah tak bisa saling menjaga, toh akhirnya lepas. Jauhpun sama, tak bisa mengendalikan perasaan dan tak bisa memelihara kesetiaan. Jatuhnya pun sama, akan lepas.
Baiklah, aku akan menjaga mawar itu. Benar-benar akan menjaganya hingga pemberi mawar kembali dan aku akan bersamanya.

Bayang Hitam...


Kupandang sosok itu,
Terdiam ku terpaku
Aku tahu…
Aku kenal…
Akupun hafal sosoknya…
Ingin menyentuhnya,
Merengkuhnya…
Kembali dalam lingkaran hidupnya
Menapaki setiap detik langkahnya
Namun,
Apa daya
Aku telah jadi bayang hitam,
Kelam,
Tak terlihat,
Hanya bisa terdiam
Tanpa simpul dibibir
Menyentuhnya tapi tak menyentuh…

            Tau nggak maksud dari puisi itu? Sebenarnya puisi itu, puisi yang isinya penyesalan. Iya, menyesal. Gampangnya nih, aku dulu punya seseorang yang berharga. Tapi, karena suatu keadaan, aku harus pergi dari kehidupannya. Bisa saja karena aku sudah tak bisa menerima perlakuannya. Setelah beberapa saat pergi, sebenarnya aku ingin kembali dalam kehidupannya. Namun, entah karena apa hati tetap menolak. Pikiranku tetap kukuh untuk kembali ke keputusan awalku. Menyentuhnya tapi tak menyentuh… iya, aku seperti itulah sekarang. Menyentuh kehidupannya, menyentuh kesalahannya agar jadi benar, tapi semua itu kulakukan tanpa dia tahu. Kulakukan dengan perantara orang lain.
            Yaa… sekarang aku dapat pembuktian bahwa penyesalan datang akhir memang. Bahkan, dengan keputusan kita sendiri. Namun, semua itu tak dapat diulang. Bahkan, sudah muncul penyesalanpun tetap hati tak bisa menerima hal yang dulu-dulu. Meskipun bukan aku sendiri yang mengalaminya. Tapi, dengan membuat puisi itu aku bisa tau, menjaga seseorang yang kita sayangi adalah sulit. Memelihara hatinya tak bisa dikatakan mudah. Memang harus tau batasannya. Kapan kita harus menggenggam erat dirinya dan kapan kita harus lebih melonggarkan genggaman kita untuknya.
            Semoga postinganku kali ini bermanfaat untuk kalian yang membacanya. Kesimpulannya jaga orang yang berharga untuk kita dan jangan ada penyesalan yang terlalu larut. Kita harus bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang dibuat sendiri. Satu lagi, yang palin penting adalah perbaiki kesalahan masa lalu untuk menyilaukan masa depan. J

Soal UN bocor???

Rabu, 16 April 2014



            Hmm, hari ini adalah hari terakhir teman-teman SMA kita melakukan Ujian Nasional. Kita doakan mereka agar mereka diberi hasil yang terbaik yuk… semoga mereka juga melanjutkan ke Universitas yang diinginkan (semoga tahun depan saya juga lancar,hehehe).
            Eh tapi tadi pagi saya lihat berita di televisi. Ternyata, kok masih ada ya yang beli kunci buat Ujian Nasional. Padahal, harganya jutaan gitu :3 kalo menurutku sih, mending dibuat hal lain yang lebih bermanfaat. Modelnya tuh macem-macem, ada yang patungan satu sekolah ada juga yang patungan antar sekolah -______-

            Kalau menurut kalian gimana sih hal seperti itu harus disikapi? Apakah harus dengan cara seperti itu jika kita takut dan khawatir dengan Ujian Nasional? Kalau menurutku sih, Ujian Nasional kan sebuah sarana untuk menguji seberapa jauh kita memahami materi selama tiga tahun belajar. Nah, jika itu kita sikapi dengan membeli kunci jawaban, apakah itu sudah menguji kemampuan kita? Tentu saja tidak kan? Apakah nantinya nilai yang keluar di ijazah kita adalah nilai kita? Tidak juga kan? Bahkan kita malah tak tahu seberapa jauh usaha dan kemampuan kita terhadap materi. Bukankan kewajiban pelajar memang untuk belajar? Memang kadang saya juga merasa jenuh dengan pelajaran. Tapi, selama kita masih bisa mengontrol kemalasan itu untuk hal yang wajar menurutku masih tak apa-apa.
Nah, kembali ke topik, hehe. Lantas jika penerus bangsa Indonesia hanya modal beli kunci jawaban, mau dikemanakan masa depan bangsa ini? Kapan Indonesia akan mendongkrak dunia? Coba renungkan kerugian-kerugiannya. Siswa yang membeli kunci jawaban tidak akan pernah mempunyai rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, siswa tidak akan merasakan manisnya setelah perjuangan, siswa tak akan pernah mandiri, dan yang paling mengkhawatirkan siswa tak tahu seberapa besar ia memahami materi yang ada. 
nah tuh, jadiin pedoman keren bangett tuh


Ayolah, generasi muda, sadar akan kemampuan kalian. Kalian itu sebenarnya bisa menyelesaikan semua soal UN dengan kemampuan kalian sendiri. Bukankah kalian sudah dikaruniai otak dan akal untuk berpikir dan menggunakannya semaksimal mungkin untuk hal-hal yang baik? Untuk mengembangkan diri kalian dan kesuksesan kalian sendiri. Kesuksesan kalian itu bisa membanggakan Indonesia dan bisa membesarkan nama Indonesia di mata dunia.kalian pasti mau kan dikenal didunia sebagai orang pintar dan hebat? Mari kawan-kawanku ubah pola pikir yang seperti itu. Ayo kita coba berusaha dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Agar usaha kita yang mulia itu ada hasilnya. Kita belajar dengan semaksimal mungkin, kita berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan, dan kita pasti akan mencapai semua itu. Memang usaha tidak menjamin kesuksesan, tapi bukankah kesuksesan itu selalu butuh usaha kan Kawan?
Yukss, kita berusaha semaksimal mungkin agar kita bisa meraih kesuksesan dengan indah Kawan, Allah selalu bersama kita ;)

Bagaimana jika "Anak dan Ibu bertukar peran?"



            Salam semangat teman-temanku! :D
            Kali ini, aku mau berbagi cerita ke kalian tentang perjalanan pulangku kemarin hari Minggu, 13 April 2014. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dibalik itu. :)
            Hari Minggu yang sebenarnya hari libur, aku malah berangkat ke sekolah untuk mengerjakan tugas film bersama kelompok ku. Penasaran nggak cerita filmku kayak apa? Hehehe, nggak usah cerita sekarang deh ya :p besok-besok insyaAllah aku post ceritanya :D
            Nah, setelah selesai ngartis kecil-kecilan, aku bersama temanku sholat dahulu di musholla sekolah kita. Karena sudah mendung, kami menyegerakan pulang agar tak kehujanan. Aku pulang naik kendaraan umum. Biasanya kendaraan umum yang aku tumpangi selalu berhenti lama di Perdana.
            Ini nih mulai ceritanya. Karena ini hari Minggu, tentu saja ngetemnya lama banget. Aku mulai bosan dan sedikit menggerutu. Tiba-tiba, ada dua penumpang masuk ke kendaraan yang aku tumpangi. Seorang anak dan seorang ibu, aku mendengar percakapannya.
            “Ayo Mak, naik. Lewat sini, hati-hati jangan sampai jatuh,” kata anak itu. Aku sempat berfikir, kenapa orang tua masuk kendaraan umum harus dituntun dahulu? Padahal, ibu itu masih terlihat sehat-sehat saja. Aku mengamati mereka. Oh! Ternyata ibu itu tak bisa melihat dunia, ibu itu tak bisa menikmati kilauan cahaya matahari, dan ibu itu tak bisa melihat indahnya warna dunia. Ibu itu buta. Aku benar-benar tercengang ketika melihat keadaan mereka dan mendengar kelanjutan percakapan mereka. Biasanya jika berbelanja bersama, sang ibulah yang membawa belajaan. Anaknya menggandeng ibunya penuh manja. Biasanya sang ibu yang mengatur uang agar bisa cukup. Anaknya meminta ini itu. Tapi… ini tak seperti itu, anaknya yang membawa seluruh belanjaan dan,
            “Mak, uangnya Alhamdulillah masih cukup untuk membeli kebutuhan besok. Masih sisa banyak Mak. Tadi, aku menawar harga banyak, jadi masih sisa banyak uangnya,”
            “Iya Nak Alhamdulillah,”
            “Hehehe iya Mak. Aku senang kita bisa berbelanja lagi,”
            “Iya Nak, pasta giginya nggak lupa kan?”
            “Enggak dong Mak, nih nih pegang. Bener kan ini pasta giginya?” ibunya hanya mengangguk.
            “Oiyaa Mak, tadi Mak minta apa? Roti kan? Aku belikan yang rasa pandan, tadi adanya coklat sama pandan. Mak nggak suka coklat kan? Ini Mak dimakan,”
            Hatiku benar-benar sakit mendengar kata-kata itu. Anak yang seharusnya bisa bermanja-manja dengan ibunya. Anak yang biasanya meminta dibelikan sesuatu oleh ibunya. Tapi, ini TIDAK! Mereka seperti bertukar peran. Benar-benar bertukar peran. Aku sempat mengira, anak ini pasti merasa kehilangan kebahagiaan masa kecilnya. Kau tahu, dia umur berapa? Menurutku, ia masih berumur tujuh tahun. Tujuh tahun yang seharusnya menyenangkan, tujuh tahun yang seharusnya penuh tawa kegembiraan oleh permainan, tujuh tahun yang terenggut begitu saja. Tapi, ternyata aku salah. Ia tetap bahagia, bahkan sangat bahagia. Lihatlah, ia menyanyi-nyanyi didalam bis ini. Banyak orang mengamatinya, tapi ia membalas tatapan itu dengan air muka gembira. Ia sama sekali tak merasa keberatan. Sama sekali tak merasa terenggut kebahagiaannya. Anak itu sangat mulia, kataku dalam hati.
            Bahagia untuknya sangat sederhana. Hanya bersama ibunya, berdua dengan ibunya, dan melihat ibunya tersenyum. Itu semua sudah cukup baginya. Allah memang luar biasa. Ia selalu bisa memberi sisi spesial untuk hamba-Nya. Selalu bisa memberi nikmat didalam hati hamba-Nya.
            Aku cuma berpikir, sebenarnya kebahagiaan itu memang sangat sederhana. Hati kitalah yang menentukan, apakah kita akan bahagia atau tidak. Bukan orang lain yang menentukan kebahagiaan dalam hidup kita. Tapi, kita sendiri. Memang hidup itu berat. Tapi bukannya yang berat itulah yang akan mengantarkan kita oada kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang kekal. Aku juga bertekad, akan mengurangi keluhanku dalam hidupku. Karena mengeluh terus menerus tanpa melakukan perubahan menuju lebih baik. Tak akan mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan.
            Udah dulu ya ceritanya :D semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari secuil kisah itu. Terimakasih sudah menyempatkan membaca. Tetap semangat dan jangan mudah menyerah Kawanku :D